Selasa, 23 Agustus 2011

Studi kasus kegiatan pencegahan kebakaran hutan












Kasus 1




Terjadi kebakaran besar didahan pohon (tipe kebakaran atas) didalam kawasan dengan pohon-pohon yang tingginya rata-rata 7-12 arah angin dari puncak gunung, dengan topografi tanah yang miring dan dibatasi oleh jurang yang tegak lurus dengan arah angin/puncak gunung






Kasus 2




Terjadi kebakaran besar disemak belukar dengan luas 100 meter persegi didalam kawasan dengan pohon-pohon yang tingginya rata-rata 5-8 meter dengan dominasi tanaman adalah pohon pinus, keadaan lokasi berupa tanah yang miring agak datar tanpa tebing.


Kasus 3




Terjadi kebakaran besar disemak belukar dengan luas 100 meter persegi didalam kawasan dengan pohon-pohon yang tingginya rata-rata 10-13 meter dengan jenis tanaman hutan campuran, keadaan lokasi berupa tanah yang miring agak datar tanpa tebing.




a. Apa Yang harus dilakukan?


b. Bagaimana Cara memadamkan api?


c. Ceritakan langkah-langkah untuk memadamkannya?












Jawablah Pertanyaan ini ?!




1. Menurut kelompok Bapak/ibu sebutkan apa saja yang diperlukan untuk mencegah kebakaran hutan terjadi dikawasan Taman Nasional ?


2. Menurut kelompok Bapak/ibu sebutkan apa saja penyebab kebakaran hutan dan bagaimana memadamkannya?


3. Menurut kelompok Bapak/ibu sebutkan Bagaimana agar masyarakat peduli terhadap bahaya kebakaran hutan ?

































Minggu, 21 Agustus 2011

ANALISIS EKOSISTEM TAMAN NASIONAL GUNUNG MERBABU DI KECAMATAN SELO


A. Kondisi Kawasan di Kecamatan Selo.


Sebagaimana disebutkan diatas bahwa Kecamatan Selo mempunyai prosentase lahan kering sangat besar. Dan jumlah lahan kering tertinggi kedua adalah hutan Negara antara lain Kawasan Gunung Merbabu yang sekarang sudah d tunjuk sebagai Taman Nasional sejak tahun 2004. Kawasn yang ditunjuk tersebut sebelumnya adalah hutan lindung yang dikelola oleh Perum Perhutani, perusahaan BUMN Negara yang bergerak pada hasil hutan baik kayu maupun kayu.


Vegetasi di Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu di Kecamatan Selo didominasi oleh Bintami, Puspa , Kesowo( Engelhardia serrata), Akasia dekuren (Acacia decuren), pinus dan lamtoro gunung. Puspa (Schima wallichi), pinus dan Bintami adalah pohonyang mendominasi kawasan hutan di bagian lereng bawah,yang dekta di kawasn penduduk. Kawasan ini adalah kawasan yang relatif tertutup dengan vegetasi . kemudian zona diatasnya didominasi oleh kesowo. Pada awalnya zona ini sangat rapat dengan tumbuhan kesowo, akan tetapi setelah kejadian kebakaran hutan pada tahun 2006 yang sangat besar, tanaman ini terbakar dan semakin berkurang.




B. Pemanfaatan Potensi Kawasan Taman Nasional di Kecamatan Selo


Selama ini kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar hutan sebagai sumber air, sumber pakan ternak, dan sumber bahan bakar. Bagi sebagian masyarakat bahkan hari-hari mereka lebih banyak dihabiskan di Hutan Gunung Merbabu daripada di rumah mereka.


Dalam penggunaan air masyarakat Selo terutama di Desa Tarubatang menggunakan Mata Air Tuk Pakis sebagai sumber air keseharian masyarakat. Sedangkan masyarakat Desa Selo dan sekitarnya menggunakan Mata Air Tuk Babon sebagai sumber air untuk MCK keluarga. Kedua Mata air ini berada di Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Masyarakat mengambil air langsung menggunakan pipa ke sumber air, mengingat kondisi tanah yang sangat poros sehingga air akan mudah hilang jika melewati tanah.


Masyarakat selain memanfaatkan air juga mengambil kayu bakar (rencek) sebagai sumber bahan bakar keluarga. Potensi Taman Nasional lainnya yang dimanfaatkan masyarakat adalah rumput, masyarakat mengambil rumput, disamping mengolah tanah dikawasan untuk ditanami rumput. Kegiatan pengolahan lahan untuk rumput inilah yang membuat kegiatan rehabilitasi Taman Nasional agar terhenti. Hal tersebut disebabkan oleh masyarakat yang membuka tajuk, bahkan menebang vegetasi agar rumput tersebut dapat tumbuh dengan baik. Di Desa Tarubatang juga terdapat jalur pendakian yang sangat ramai pada saat tahun Baru, Idul fitri, Tahun baru masehi. Jalur pendakian ini adalah salah satu jalur pendakian yang ramai di Taman Nasional Gunung Merbabu.




C. Kegiatan yang telah dilaksanakan di Kecamatan Selo


Taman Nasional Gunung Merbabu telah mengadakan Salah satu kegiatan yang pernah dilakukan di Kecamatan Selo adalah kegiatan Pembentukan dan Pembinaan Masyarakat Peduli Api di Desa Tarubatang, Mengingat daerah ini sangat rawan terjadinya kebakaran Hutan. Selain itu Taman Taman Nasional juga telah mengadakan sosialisasi di Desa Jrakah Kecamatan Selo, Pembuatan Jalur Patroli di Dusun Tumut diatas Desa Jrakah, serta penanaman Jalur batas di Jrakah.




D. Permasalahan yang ada di Kawasan Taman Nasional di Kecamatan Selo


Permasalahan secara umum yang ada dikawasan Taman Nasional Gunung Merbabu antara lain karena aktivitas yang sangat tinggi di Taman, Masyarakat berinteraksi dengan kawasan sangat tinggi, sehingga sedikit banyak menimbulkan permasalahan. Meliputi :


1. Sering terjadinya peristiwa kebakaran hutan di Kecamatan Selo


Pada tahun 1999 terjadi kebakaran hutan seluas 45 Ha dimukinkan terjadi di daerah ini, Pada tahun 2006 kebakarn besar juga terjadi di kawasan ini yang menyebabkan zona kesowo habis terbakar. Dan pada tahun 2007 terjadi kebakaran di blok pentur dan blok Jurang Bangkai , Desa Selo seluas 10 Ha. Pada tahun 2008 juga terjadi kebakaran seluas 7 Ha yang tersebar 3 Ha di Jrakah dan 4 Ha di Desa Selo


2. Adanya pendakian gunung yang tidak terorganisir, adanya Vandalisme


Kegiatan pendakian yang sering diadakan di jalur pendakians selo terkadang tanpa menggunakan kaidah yang baik, oleh karena itu perusakan lingkungan sering terjadi baik berupa vandalism, maupun perusakan vegetasi mengingat masih belum adanaya pengelolaan Jalur Pendakian.


3. Sarana dan prasarana air yang ada yang tidak sesuai fungsi kawasan


Sarana yang menjadi pera=msalahan adalah adanay paralaon dan bak air yang semestinya tidak ada dalam kawasan.


4. Pembukaan vegetasi untuk penanaman rumput


Dalam rangka memperoleh rumput masyarakat sering membuka lahan untuk ditanami rumput, pembukaan vegetasi yaitu dengan menebang pohon maupun semak. Mengingat ternak yang sangat banyak 18.001 ekor, dengan jumlah sapi sebanyak 10.585 ekor. Untuk memenuhi kebutuhan pakan sapi masyarakat membudidayakan pakan di kawasan .


5. Pengambilan rencek yang berlebihan


Sebagaimana disebutkan sebelumnya masyarakat memenuhi akan kebutuhan bahan bakar dengan merencek di kawasan TN Gunung Merbabu, kegiatan ini akan diperparah lagi jika rencek tersebut dijual, sehingga kegiatan eksploitasi tersebut akan semakin berlanjut.

KEADAAN DAN POTENSI KECAMATAN SELO


A. Keadaan Umum


Kecamatan Selo merupakan salah satu dari 19 Kecamatan di Kabupaten Boyolali. Kecamatan ini terdiri dari 10 desa yang tersebar di sisi sebelah timur dan utara lereng Gunung Merapi dan sebelah barat selatan lereng Gunung Merbabu. Wilayah Kecamatan Selo sebelah utara dibatasi oleh Kecamatan Ampel Kabupaten Magelang, sebelah selatan di batasi oleh Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta, Sebelah Barat dibatasi oleh Kabupaten Magelang. Sedangkan di sebelah Timur dibatasi Oleh Kecamatan Cepogo dan Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali.


Kecamatan Selo adalah salah satu kawasan Penyangga Taman Nasional dengan jumlah desa yang berbatasan langsung dengan kawasan berjumlah 7 desa dari 10 desa yang ada di Kecamatan Selo. Desa-desa tersebut adalah Desa Jrakah, Desa Lencoh, Desa Samiran, Desa Selo, Desa Senden, Desa Tarubatang dan Desa Jeruk sedangkan tiga desa yang tidak berbatasan langsung dengan balai Taman Nasional Gunung Merbabu yaitu : Desa Tlogo lele, Desa Suroteleng dan Desa Klakah.


Daerah yang berada diantara lereng Merapi dan Lereng Merbabu ini mempunyai ketinggian dari permukaan air laut antara 1.200 m dpl-1.500 m dpl. Dengan Curah Hujan yang cukup tinggi yaitu 3.055 mm per tahun (2006) dengan jumlah hari hujan mencapai 106 hari hujan. Iklim yang ada di daerah ini adalah iklim tipe C basah berdasarkan pembagian iklim menurut Schmidt dan ferguson. Iklim ini sangat cocok untuk daerah pertanian.




B. Lahan


Tanah di Kecamatan selo sebagian besar digunakan sebagai tanah kering yaitu mencapai 5.572,4 Ha dari 5.607,8 Ha, sisanya adalah tanah sawah yang hanya seluas 35,4 Ha. Tanah Kering tersebut digunakanoleh masyarakat sebagai pekarangan/bangunan seluas 998,9 Ha, Tegal/kebun seluas 1.9272 Ha, Hutan Negara 1.350,6 Ha, lainnya 495,7 Ha. Dari jumlah tersebut dapat dilihat bahwa luas wilayah hutan Negara dalam hal ini Taman Nasional Gunung Merbabu sangat luas menduduki peringkat kedua setelah luas tegalan/kebun.


Lahan di daerah ini di dominasi oleh tanah perbukitan,. Sangat sedikit daerah yang berupa dataran. Hal ini dapat dilihat dari prosentase jumlah tanah sawah yang sangat minim. Di Desa Tlogolele dan Desa Klakah terdapat sumber galian C terutama pasir dan batu kali yang bersumber dari sungai Apu yang terdapat diantara dua desa tersebut diatas. Galian C tersebut merupakan material yang bersumber dari longsoran lahar dingin gunung teraktif di Indonesia , Gunung Merapi.




C. Kependudukan dan sosial ekonomi masyarakat


Penduduk Kecamatan Selo berjumlah 26.777 Jiwa dengan jumlah laki-laki 12.969 jiwa dan jumlah perempuan 13.808 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 477 Jiwa/Ha. Yang tersebar dalam 7.649 Kepala Keluarga. Dengan tingkat pendidikan masyarakat yang rata-rata cukup rendah yaitu hanya tamat SD dengan angka 9.971 jiwa dari total 24.800 Jiwa. Mata pencaharian penduduk Kecamatan Selo umumnya petani baik petani tanaman pangan maupun tanaman holtikultura, disamping beternak


Mata Pencaharian penduduk Selo adalah petani, Sebagian besar petani dengan pertanian kering dan holtikultura. Sebagian lagi adalah penambang pasir diwilayah Merapi.

Tipe Ekosistem Hutan Pegunungan bawah (1000-1500 mdpl) Taman Nasional Gunung Merbabu Wilayah Magelang.





Tipe Ekosistem berdasarkan ketinggian ini di Kawasan Merbabu Kabupaten Magelang hanya ditemukan dikawasan yang menjari, dimana kawasan ini panda umunya berdekatan dengan lahan milik masyarakat bahkan berdampingan dengan pemukiman warga. Tipe Ekosistem Hutan Pegunungan bawah dikawasan Taman Nasional Gunung Merbabu telah mengalami perubahan, hal ini terjadi karena kawasan ini sebelumnya merupakan hutan produksi terbatas yang dikelola oleh Perum Perhutani KPH Kedu Utara dimana dengan tanaman jenis Pinus Merkusii. Tanaman ini ditanam oleh Perum Perhutani untuk menghasilkan getah pinus. Jenis Pinus ini tersebar dikawasan yang menjari yang merupakan fragmen kawasan Taman Nasional. Hampir dipastikan bahwa hutan ini merupakan hutan homogen dengan kelas umur yang sama per petak, dimana petak-petak ini telah dibagi-bagi sesuai dengan tipe dan bentang lahan sesuai kebutuhan dari Perusahaan. Dibawah tegakan pinus hampir pasti jarang sekali dijumpai tanaman yang mampu tumbuh dengan baik karena sifatnya itu. Ditipe ekosistem ini hanya ditemukan satu jenis pohon selain pinus yaitu preh di desa Banyusidi selain itu hampir semua jenis pohonnya merupakan pinus Merkusii.


Untuk flora tingkat Tiang Jenis Pinus ini masih mendominasi, dimana Tanaman pinus ini masih berumur muda dengan Kelas Umur II (antara 1-20 Tahun) hanya ditemui jenis Akasia dekuren selain jenis Pinus Merkusii.


Sedangkan untuk Flora tingkat Tiang sudah mulai muncul beragam jenis antara lain meliputi Sonokeling, manis jangan, Jambu, Murbei, Waru Gunung, Akasia, Kemlandingan Gunung, dan Kaliandra.


Jenis-jenis Tumbuhan Bawah panda Tipe Ekosistem ini ditemukan 87 jenis tumbuhan bawah dan semai dari total 158 Jenis flora tumbuhan bawah yang ditemukan dikawasan Taman Nasional Gunung Merbabu Wilayah Magelang. Dimana jenis Tisu Alam, Suplir, Kumis Kucing, RUmput Bunga 2 cabang dan rumput buluh pangkal, rumput kebo mendominasi. Hal ini disebabkan oleh karena daun-daun pinus merkusii yang sudah kering dan menutupi permukaan hutan mampu menghambat pertumbuhan tanaman bawah serta penutupan tajuk yang kompak.

Kamis, 18 Agustus 2011

Thuja Orientalis, Cupressus sp, Podocarpus sp

Thuja merupakan genus dari family Cupressus sp yang merupakan jenis tumbuhan yang mirip, mirip, jenis ini dikawasan Taman Nasional Gunung Merbabu sering disebut bintamin, cemara gembel, cemara wewe dsb.

Kamis, 11 Agustus 2011

Kegiatan yang Boleh Dilakukan dan Tidak Boleh Dilakukan di Kawasan Taman Nasional





Yang boleh dilakukan di kawasan Taman Nasional :


1) Yang boleh dilakukan di kawasan taman nasional, antara lain :


a. Kegiatan untuk tujuan rekreasi, yaitu kegiatan untuk berkemah dan mendaki gunung


b. Kegiatan untuk tujuan penelitian


c. Kegiatan untuk tujuan pendidikan





2) Yang tidak boleh dilakukan di Taman Nasional, antara lain :


a. Membawa senjata api/angin/tajam, binatang peliharaan, benih tanaman, bahan kimia, minuman keras dan obat-obatan terlarang ke dalam kawasan


b. Melakukan tindakan yang dapat merusak keutuhan kawasan baik terhadap tumbuhan maupun satwa


c. Berburu, menangkap, membawa dan memiliki satwa atau bagian-bagiannya baik dalam keadaan hidup/mati, kecuali untuk tujuan penelitian


d. Melukai/membunuh satwa, kecuali satwa tersebut membahayakan keselamatan


e. Mengambil, merusak, membawa dan memiliki telur/sarang satwa, kecuali untuk tujuan penelitian


f. Menebang, memotong, mengambil dan memiliki tumbuhan dan bagian-bagiannya dalam keadaan hidup/mati, kecuali untuk tujuan penelitian


g. Melakukan sesuatu yang mengakibatkan perubahan terhadap kondisi tanah


h. Melakukan vandalisme pada tumbuhan, batu, bangunan, dan lain-lain


i. Membuang sampah dan bahan-bahan lainnya yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, kecuali pada tempat-tempat yang telah disediakan


j. Menyalakan api yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran, kecuali pada tempat-tempat yang telah ditetapkan


k. Mendirikan kemah/tenda di luar daerah bumi perkemahan, kecuali untuk kegiatan ekspedisi dan penelitian


l. Melanggar rute yang telah ditetapkan.

FUNGSI TAMAN NASIONAL

Fungsi Taman Nasional

Taman Nasional merupakan Kawasan Pelestarian Alam dengan fungsi meliputi :

1) Perlindungan sistem penyangga kehidupan



Sistem penyangga kehidupan merupakan satu proses alami dari berbagai unsur hayati dan non hayati yang menjamin kelangsungan kehidupan makhluk. Perlindungan sistem penyangga kehidupan ditujukan bagi terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia.Perlindungan sistem penyangga kehidupan antara lain meliputi fungsi sebagai pencegah hilangnya air tanah, menyimpan cadangan air, mencegah banjir, menghasilkan oksigen, mencegah longsor, menjaga keasrian dan kesejukan.


2) Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa.


Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dilaksanakan melalui kegiatan: pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya dan pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Melalui fungsi ini keanekaragaman dan jenis satwa dan tumbuhan akan lestari dan dapat disaksikan oleh generasi yang akan datang.


3) Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam dan ekosistemnya


Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan: pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam; pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar. Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian fungsi kawasan. Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dilakukan dengan memperhatikan kelangsungan potensi, daya dukung, dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar. Melalui fungsi ini diharapkan taman nasional mampu menghasilkan pendapatan bagi negara dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ini meliputi antara lain: Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam, Pariwisata, ekspor satwa.