Selasa, 08 November 2011

Lereng Merbabu Boyolali terbakar

Boyolali (ANTARA News) - Kawasan hutan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM) tepatnya di atas Dukuh Tempel, Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Selasa, terbakar.

Menurut Kepala Desa Jrakah Tumar, kebakaran di lereng Merbabu tepatnya di sebelah sisi timur atau di atasnya Dukuh Tempel, Jrakah, Selo, terjadi sekitar pukul 10.30 WIB, dan hingga pukul 16.00 WIB api diduga semakin meluas ke arah puncak.

Namun, kata dia, api diduga membakar areal padang rumput di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Merbabu.

Menurut dia, lokasi kebakaran di lereng Merbabu tersebut jaraknya cukup jauh dari pemukiman penduduk diperkirakan sekitar enam kilometer.

"Petugas polisi kehutanan TNGM, Kesbanglimas, anggota Polsek Selo, dan dibantu warga sekitar sudah menuju ke lokasi kebakaran untuk melihat kondisinya," katanya.

Menurut Koordinator Polhut Badan TNGM Kurnia Adi Wirawan, pihaknya bersama warga dan anggota Polsek Selo, tengah berupaya memadamkan api agar tidak merembet ke lahan lebih luas.

Namun, pihaknya tidak bisa mengetahui dengan pasti luasan lahan yang terbakar tersebut. Lokasi itu di areal padang rumput masuk kawasan TNGM.

Menurut dia, upaya pengecekan dan pemadaman tersebut tidak langsung dapat dilakukan dalam waktu singkat, karena harus menyusuri jalan mengitari perbukitan dengan jarak sekitar enam kilometer.

Sejumlah warga yang turut naik juga membawa peralatan sederhana seperti cangkul, sabit dan batang bambu.

Menurut Kepala Dusun III Desa Jrakah Marni Suroso, dirinya mendapat informasi dari warga yang mengetahui terjadinya kebakaran tersebut sekitar pukul 10.30 WIB.

Kawasan yang terbakar tersebut, kata dia, hutan di kawasan TNGM. Warganya kini siap untuk membantu pemadaman agar kebakaran tidak semakin meluas.

Warga khawatir jika kebakaran tidak segera dilokalisasi, dapat meluas dan mencapai areal ladang milik penduduk.

Kepala Polsek Selo AKP Suparma menjelaskan, pemadaman api di hutan tersebut membutuhkan tenaga ekstra sehingga mengajak warga ikut naik gunung ke lokasi kebakaran.

"Kami hingga Selasa petang masih berupaya memadamkan agar api tidak merembet," katanya.
(U.B018/M028)



Editor: Ruslan Burhani


sumber antara

Kemarau, Kebakaran Hutan Gunung Merbabu Sulit Dipadamkan dan Kian Meluas




Kemarau, Kebakaran Hutan Gunung Merbabu Sulit Dipadamkan dan Kian Meluas



Kamis, 29 September 2011 17:59 WIB



REPUBLIKA.CO.ID, BOYOLALI - Kebakaran hutan musim kemarau di Kabupaten Boyolali kian meluas. Hingga kemarin, tercatat sedikitnya lahan seluas 50 hektar hutan kawasan Balai Taman Nasional Gunung Mebabu (BTNGM) kobaran api telah menghanguskan lahan seluas 50 hektar hutan kawasan Balai Taman Nasional Gunung Mebabu (BTNGM).

Kasus kebakaran hutan kali ini diperkirakan terus merambat lantaran masih banyak kobaran api yang belum berhasil dijinakan. Hingga kemarin, kebakaran sudah melalap Desa Jrakah, Kecamatan Selo. Bahkan, mulai merambah wilayah Kecamatan Wonolelo, Kabupaten Magelang.

Kurniawan, Koordinator Polisi Hutan (POlhut) BTNGM, melaporkan, api sudah menjalar ke wilayah Kabupaten Magelang. Kawasan hutan yang terbakar meliputi Desa Bentrokan, Kecamatan Sawangan, Desa Pogalan, Kecamatan Pakis, dan Desa Wekas, Kecamatan Ngablak.

Kebakaran hutan juga merambah wilayah Kabupaten Semarang. Menurut Kurniawan, menghanguskan areal Dusun Pakelan, Desa Batur, dan Dusun Cunto, Desa Kopeng.

Kepala BTNGM, Dulhadi, mengatakan, pihak kehutanan terus berupaya melakukan pemadaman dengan berbagai tindakan. Juga melibatkan warga untuk turut membantu pemadaman dengan model tradisional, yakni gepyok. Tindakan ini untuk melokalisir biar api tidak merembet. Ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi agar kobaran api tidak merembet ke wilayah Timur, yakni kawasan Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali.

Pemadaman kebakaran hutan musim kemarau selalu menghadapi kendala. Seperti, kondisi medan berat, cuaca kering, dan disertai angin kencang. Hal tersebut mempercepat kobaran api merembet liar sesuai arah terpaan angin kencang. Sehingga upaya pengalihan kebaran sangat susah.

Menurut Dulhadi, pihaknya selain mengerahkan partisipasi masyarakat setempat, kelompok peduli lingkungan, aparat TNI. Juga mengerahkan 140 personil untuk melokalisasi areal kebakaran hutan. Syukur, kebakaran tidak sampai merembet ke kawasan pendakian Gunung Merbabu di Kecamatan Selo. Ia belum memastikan luasan hutan yang terbakar. Berdasar perkiraan saja, kata dia, sekitar 50 hektar.



Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari


Reporter: Edy Setyoko





Kebakaran Hutan Merbabu Terus Meluas




Boyolali, CyberNews. Upaya pemadaman api yang membakar kawasan hutan lindung Gunung Merbabu terus dilakukan. Upaya pemadaman mengalami kendala karena hanya mengandalkan peralatan sederhana seperti gepyok, sabit dan cangkul.


Kondisi diperparah dengan tiupan angin kencang ke arah utara. Amukan si jago merah sudah mencapai kawasan hutan di atas Desa Ngagrong dan Candisari, Kecamatan Ampel. Bahkan, dikhawatirkan api bisa meluas hingga kawasan Kopeng, Kabupaten Semarang.


Kawasan hutan yang terbakar mayoritas adalah kawasan padang ilalang. Kondisi rumput dan ilalang yang kering mengakibatkan api dengan cepat terus merambat. Kawasan yang terbakar meliputi, Puncak Songo, Gunung Kendit, Puncak Syarif, Puncak Kukusan dan Puncak Gumuk Bantalan.


Petugas Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGM) bersama masyarakat terus berupaya memadamkan amukan api. Warga khawatir kebakaran meluas hingga kawasan lading milik wargayang dekat dengan pemukiman. Sebagai antisipasi, warga membersihkan ilalang dekat dengan ladang agar api tidak merembet.


“Api terus membesar dan sulit dipadamkan, apalagi tiupan angin di kawasan puncak sangat kencang,” ujar Naryo (61) seorang warga, Kamis (29/9).


Warga juga was-was jika kebakaran merusak sumber air bersih. Di kawasan puncak, terdapat tiga buah sumber air yang digunakan warga 10 desa di Kecamatan Ampel. Kini, aliran air sudah menyusut. Bila kebakaran meluas ke bawah, maka bisa merusak jaringan pipa air bersih.


Kendala Serius


Menurut Wayan, Kepala seksi 1 BTNGM, upaya pemadaman menghadapi kendala serius. Pasalnya, pemadaman hanya mengandalkan peralatan sederhana. Langkah itu hanya bisa dilakukan dengan cara mendekati lokasi kebakaran. Padahal, lokasi kebakaran sulit dijangkau karena medannya sangat berat.


Petugas dibantu warga harus naik turun tebing dan jurang untuk menjangkau kawasan yang terbakar. Otomatis, pergerakan tersebut tidak bisa dilakukan dengan cepat. Di sisi lain, tiupan angin kencang mengakibatkan api dengan cepat merembet membakar padang rumput yang mengering serta kawasan berkabut tebal.


Belum lagi, kondisi tanah di kawasan puncak yang berupa tanah remah. Kondisi tanah berpasir yang gembur dan didalamnya terdapat akar pohon maupun rumput yang mengering. Akibatnya, bara api tetap bisa membakar akar-akar pohon di dalam tanah tersebut.


( Joko Murdowo / CN26 / JBSM )


1.600 Hektare Hutan TGNM Kritis



PDFPrint




Tuesday, 25 October 2011
UNGARAN– Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGM) memetakan sedikitnya ada 1.600 hektare lahan TNGM yang kritis dari total 5.725 hektare.




Lahan kritis tersebut berada di tiga wilayah kabupaten yang menjadi lokasi TNGM, yakni Semarang, Magelang, dan Boyolali. Kepala BTNGM Dulhadi mengatakan, dari hasil pantauan di lapangan, kerusakan hutan TNGM sebagian besar disebabkan faktor manusia, seperti rendahnya kesadaran menjaga dan melestarikan alam.



Hingga saat ini, kondisinya sangat mempri-hatinkan dan mendesak dikonservasi. ”Sebagian besar hutan TNGM rusak akibat kesalahan dan kelalaian manusia. Contohnya kebakaran hutan,” kata dia kemarin.



Menurut Dulhadi, pada peristiwa kebakaran yang terjadi beberapa waktu lalu, total luas lahan TNGM yang terbakar mencapai 600 hektare. Dalam waktu dekat, kata dia, BTNGM akan melakukan konservasi. (angga rosa)






Gunung Merbabu Terbakar 300 Hektar, Jalur Pendakian Ditutup



Foto: Parwito/detikcom


Parwito - detikNews

Magelang - Terbakarnya hutan savana di Kawasan Puncak Merbabu sudah mencapai luas 300 hektar. Akibatnya, empat jalur pendakian di lereng Gunung Merbabu yang menuju ke arah puncak langsung ditutup bagi para pendaki gunung.

Penutupan ini dilakukan oleh pengelola Taman Nasional Gunung Merapi & Merbabu (TNGM) setelah diketahui bahwa kebakaran di kawasan puncak Merbabu meluas dari Selo, Boyolali merambat sampai di wilayah Magelang. 

Keempat jalur pendakian yang langsung ditutup itu adalah jalur pendakian Desa Klakah, Desa Selo (Kecamatan Selo, Boyolali) dan Desa Tekelan, Kecamatan Pakis serta Desa Cuntel Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

"Malam ini keempat jalur pandakian langsung kita tutup. Sebab, sangat berbahaya dalam kondisi hutan terbakar khususnya di kawasan puncak," ungkap petugas Polisi Hutan (Polhut) Seksi Pengelola Taman Nasional (SPTN) Wilayah Magelang, Mustofa, saat ditemui detikcom di lokasi kejadian, Selasa (27/9/2011) malam.

Mustofa menjelaskan sampai saat ini beberapa petugas melakukan penjagaan keempat pos pendakian. Selain itu juga melakukan upaya pemadaman kendati dalam kondisi sulit.

Pihak TNGM Rabu (28/09/2011) pagi akan melakukan upaya pemadaman secara besar-besaran dengan mengerahkan Polhut Perhutani dan ratusan warga sekitar lereng Merbabu.

"Untuk wilayah Magelang kita sudah berkoordinasi dengan tiga camat. Yaitu kecamatan Sawangan, Kecamatan Ngablak dan Kecamatan Pakis. Jumlahnya mencapai ratusan warga untuk melakukan upaya pemadaman di puncak," jelas Mustofa.

Soal apa penyebab dari terbakarnya kawasan puncak gunung Merbabu, pihak TNGM sampai saat ini masih melakukan upaya penyelidikan.

"Kami sedang mencari tahu apa penyebab kebakaran. Selain musim kering yang biasanya jika terjadi guguran batu akan terjadi percikan api sehingga rumput ilalang mudah terbakar. Tetapi kami juga menduga ada oknum warga yang sengaja membakar jerami kemudian meluas menjadi kebakaran yang besar di kawasan puncak," tutur Mustofa.

Selain mengerahkan Polhut TNGM dan warga sekitar lereng Merapi, tim SAR juga akan diterjunkan untuk membantu melakukan upaya pemadaman kebakaran hutan Gunung Merbabu.

Koordinator Tim SAR Kokam Kabupaten Magelang Asroni kepada detikcom menyatakan setidaknya sebanyak 100 personel SAR dari Kabupaten Magelang akan diturunkan.

"Kami sudah berkoordinasi dengan kepolisian dan TNGM besok pagi sekitar pukul 06.00 WIB akan ke titik nol Gunung Merapi Merbabu untuk melakukan upaya pemadaman secara bersama-sama," ucap Asroni.

Sampai berita ini diturunkan, kawasan puncak Merbabu masih dikuasai oleh si jago merah. Asap tebal masih membumbung tinggi di Gunung Merbabu yang ada di sebelah barat Gunung Merapi ini.

sumber detiknews.com

Kamis, 20 Oktober 2011

JALUR PENDAKIAN SELO, BOYOLALI GUNUNG MERBABU







Jalur Pendakian Selo dapat diakses lewat Kabupat


en Boyolali dan Kabupaten Magelang. Untuk mencapai Jalur Pendakian Selo melalui Kabupaten Boyolali dapat ditempuh dari Solo, Semarang, Klaten kearah barat menuju Kecamatan Selo


Berikut ini uraian Tapak/Pos pada Jalur Pendakian Selo.


1. Base camp dan Pintu Masuk (1836 mdpl )


Merupakan kawasan penduduk yang b


erbatasan langsung dengan batas kawasan, para pendaki dapat menitipkan sepeda motor atupun barang-barang lainnya, dilokasi ini terdapat 3 rumah yang sering digunakan oleh para pendaki untuk istirahat ataupun persiapan mendaki, lokasi ini terletak pada koordinat X= 0440435 dan Y= 9172646 ,


2. Dok Malang (2196 mdpl)


adalah pos/Tapak kedua setelah base camp, tempat ini kanan kiri hutan kesowo, bintami dan ada tanah lapang seluas 20 m2 dan didominasi oleh pohon jenis Bintami, Akasia, Cemara gunung. Lokasi ini Mempunyai koordinat X= 0439947 Y= 9173895. Sebelum sampai di lokasi ini dapat ditem


ukan hutan Puspa yang bergerombol dan teduh.





3. Bukit Bayangan/Pos Kota/ Bukit Bayangan (2273 mdpl)


Tapak ini berjarak 1120 meter dari Dok malang, berlokasi di ujung tebing, dengan koordinat X= 0439770 dan Y= 9174222, terdapat lokasi yang luas akan tetapi tidak aman untuk berkemah karena kanan kirinya merupakan tebing nyang curam. Menuju lokasi terdapat jalan yang curam yang merupakan bekas erosi.


4. Pandeyan (2418 mdpl)


Tapak ini terletak pada koordinat X= 0439435 dan Y= 9174429, berjarak 460 meter dari pos/tapak bayangan, lokasi ini sering digunakan untuk berkemah, akan tetapi hanya dapat digunakan oleh sedikit pendaki. Disini muali dapat dijumpai edelweiis tumbuh dengan baik.


5. Batu Tulis (2580 mdpl)


merupakan Lokasi yang luas dengan pandangan yang luas,yang dikelilingi oleh bukit bukit kecil dengan dominasi padang alang – alang dan sedikit edelweiss, cantigi yang pada musim semi memerah dan nampak indah, di pos/tapak ini merupakan tempat mulai dapat ditemui banyak edelweiss dan cantigi. terdapat batu yang ada tulisannya, lokasi ini mempunyai koordinat X= 0438926 dan Y= 9174441.


6. Sabana I (2784 mdpl)


Medan menuju Sabana I dari Watu Tulis sanga




t berat dengan kemiringan lebi besar dari 15 % . dengan jalan penuh dengan bebatuan dan tanah yang tergerus erosi. Sabana I merupakan pos dengan padang rumput yang luas disekitarnya (bubar jaran) dan cantigi. Tempat ini sangat cocok untuk berkemah sebelum menuju puncak triangulasi. Lokasi ini terletak pada koordinat X= 0438805 dan Y= 9174769. Sabana I merupakan lokasi yang sering dipilih oleh para pendaki untuk berkemah dengan luas lahan datar sekitar 2 (dua) hektar.


7. Sabana II (2857 mdpl)


Terletak pada koordinat X= 0438605 dan Y=9175310, dari Sabana I menuju Sabana II kondisi jalan menurun, dengan padang rumput dan Edelweiss tinggi yang cukup luas sesekali ditemukan kemlandingan gunung dan cantigi dengan ukuran yang cukup tinggi. Sabana II merupakan lokasi yang sangat menarik bagi pendaki dengan edelweiss yang indah, disini para pendaki umunya berkemah karena dilokasi ini terdapat lahan datar seluas 2 (dua) hektar yang cukup baik untuk berkemah. Dilokasi pula terdapat lokasi yang sering disebut Gunung kukusan yang sering dilalui oleh para pendaki untuk melihat puncak-puncak Gunung Merbabu dan Puncak Gunung Merapi, untuk menuju lokasi ini diperlukan waktu sekitar 20 menit.






8. Puncak Triangulasi (3132 mdpl)


Puncak Triangulasi merupakan puncak tertinggi.lokasi ini terletak pada koordinat X= 0438172 dan Y= 9176001. Untuk menuju lokasi dari Sabana II melewati jalan yang berat dan mendaki karena jalannya tergerus erosi dan licin. Dalam perjalanan dari Sabana II akan dapat dijumpai gugusan Edelweiss tua. Disini akan dapat dijumpai watu lumping pada koordinat X= 0438283 dan Y= 9176055 dengan ketinggian 3164/3138 mdpl


9. Puncak Kenteng Songo (3138 mdpl)


Memiliki koordinat X= 0438283 dan Y= 9176055 dan terletak disebelah timur laut puncak triangulasi dengan jarak 130 meter, disini dapat dijumpai 6 buah, dengan medan yang sedang dengan dominasi cantigi dan eidelweiis disekitarnya.

Senin, 12 September 2011

Kondisi Fisik pada jalur Pendakian Tekelan














No


Item


Deskripsi Lokasi


1.


Tanah


Tanah pada Jalur pendakian Tekelan merupakan jenis tanah berpasir, tipe tanah ini akan menimbulkan debu pada musim kemarau, dan pada musim hujan agak padat, akan tetapi di pos/tapak Basecamp– pos/tapak Pending pada musim kemarau dapat menimbulkan becek dan erosi. Pendaki akan menemukan batu dan kerikil yang mengganggu pendaki setelah pos/petak batu gubug.


2.


Kemiringan/ Topografi


Kemiringan Jalan interpretasi pada jalur interpretasi selo bervariasi antara kemiringan 5 -35 %.


3.


Iklim/Cuaca


Iklim tipe B berdasarkan Schmidt dan ferguson.


4.


Ketersediaan Air


Air hanya dapat diperoleh di awal pintu masuk/base camp dari masyarakat dan pada pos/tapak Pending yang didalamnya terdapat bak penampungan air pertama milik masyarakat.


5.


Penutupan Vegetasi


Penutupan vegetasi dapat ditemui hingga pos/tapak lempong sampan dengan dominasi sengon gunung dan tengsek.


6.


Suhu


Suhu rata-rata pada malam hari mencapai 16˚C


Sedangkan suhu pada siang hari mencapai 26˚C, Suhu ini dapat berubah ketika ada musim kemarau yang panjang.


7.


Jarak Tempuh


Kira kira 7 jam 20 menit.