Sabtu, 05 Mei 2012

Merbabu, Puncak Keindahan yang Mengagumkan dari Jawa Tengah



detikTravel Community - 



Kabut, udara dingin, hutan yang lebat, serta sulitnya air menjadi halangan selama pendakian Gunung Merbabu, Jateng. Tapi, bila Anda berhasil menaklukan puncaknya, pesona dan keindahan alamnya bisa jadi hadiah yang berharga.


Gunung Merbabu yang terbentang di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah ini sudah menjadi primadona dikalangan para pendaki. Jalur yang sulit, udara dingin yang menusuk tulang jadi pertimbangan yang harus diperhatikan.


Bergaya di hadapan Merbabu



Kami pun mulai merencanakan perjalanan mendaki Merbabu. Pendakian kali ini memilih jalur Selo. Meskipun jalannya pagak panjang, pemandangan yang ditawarkan sangatlah indah dan mengagumkan.


Pukul 16.00 WIB kelompok sampai di basecamp. Istirahat sebentar dan menyesuaikan diri dengan hawa gunung yang sangat dingin bisa jadi pilihan tepat sebelum melakukan pendakian. Akhirnya, setelah semua dirasa cukup, sekitar pukul 17.00 WIB lebih pendakian pun dimulai.


Jalan yang menanjak, licin, dan banyak ranting pohon membuat nafas kami tak beraturan. Tak lama, Pos I Dok Malang pun berhasil kami lewati. Berhenti sejenak untuk mengatur ritme jantung sedari tadi berpacu dengan cepat. Kami pun melanjutkan perjalanan ke pos II dan III, Watu Tulis.


Malam menyelimuti perjalanan kami menuju puncak Merbabu. Sesekali berhenti di ujung bukit untuk melihat hamparan lampu kota yang seperti sungai mengalir menjadi hiburan selama perjalanan, "Indah, sangat indah." Luapan emosi jiwa ini pun tersalurkan ketika menatap tajam pesona lukisan Tuhan. Sejenak menikmati suguhan panorama alam yang membuat terasa segar dimata sangat sayang bila terlewatkan.


Pendakian kali ini pun akhirnya memasuki babak baru menuju Sabana I. Jalanan terjal dengan kemiringan 15 derajat siap menghadang. Rombongan terpecah menjadi dua bagian karena memang pada bagian ini ada 2 jalur.


Ah... badai semakin kencang dan kami memutuskan untuk mendirikan tenda di Pos Sabana I. Setengah jam kami mendirikan tenda, dan berjuang melawan terpaan angin yang dahsyat.


Pukul 02.00 WIB, tenda ini serasa mau roboh. Angin yang menyapa kami sangat banyak dan tidak tahu malu. Di dalam tenda kami hanya bisa berdoa memohon perlindungan kepada-Nya. Selamatlah, pagi pun menjelang, angin agak sedikit reda.


Pagi ini, puncak Klenteng Songo yang menjadi Puncak I Gunung Merbabu menjadi target selanjutnya. Pukul 09.00 WIB kami memulai perjalanan ke lokasi yang berada di ketinggian 3.142 mdpl. Sekitar jam 11.00 kami kembali bergabung dengan rombongan pendaki yang lain.


Mengisi waktu selama pendakian kami melakukan lutisan atau dalam bahasa Indonesianya dikenal dengan rujakan. Aktivitas seperti ini menjadi hal yang lumrah dilakukan para pendaki. Selain merekatkan kebersamaan sesi ini juga bisa digunakan untuk mencari teman baru dari rombongan lain yang tidak sengaja bertemu. Berfoto sejenak dan sedikit merasakan bius hawa gunung yang menembus hingga ke tulang terasa nikmat bersama dengan rujak yang kami santap.


Pemandangan alam di puncak Merbabu membuat mata ini tidak lelah untuk melolotot. Tubuh ini seakan tak merasakan lelah yang mendera, akibat pesona gagahnya Gunung Merapi yang sangat dekat dengan Gunung Merbabu. Hamparan sabana yang hijau menyerupai karpet hidup dan bunga edelwise tak lupa menyapa mata kami dengan warnanya yang khas.


Ehm... hiruk pikuk dan hingar bingar lampu sorot kehidupan kota seakan sirna dan hilang ketika berada di puncak kenikmatan ini. Menikmati kesuyian dan menghirup udara yang segar menjadi obat untuk tubuh ketika deru aktivitas duniawi melanda.


sumber :detiktravel

Sabtu, 21 April 2012

Desa Wisata Kopeng Tawarkan Ragam Tempat Berlibur








PEMANDANGAN
 alam pedesaan yang berpadu dengan keindahan tanaman bunga dan sayuran siap menyapa Anda saat bertandang ke Desa Wisata Kopeng di Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Sajian wisata yang bisa dinikmati antara lain wisata alam pegunungan, kebun bunga, petik strawberi, berkuda, kerajinan, budaya dan kuliner. Desa Wisata Kopeng Tawarkan Ragam Tempat BerliburDesa Wisata Kopeng Tawarkan Ragam Tempat Berlibur





Saat memasuki daerah wisata, hawa dingin pegunungan sudah mulai terasa. Semakin mendekati daerah Kopeng, wisatawan bisa menikmati panorama perkebunan sayur-sayuran segar seperti wortel, kol, kentang dan sawi. 

Di kawasan Desa Wisata Kopeng terdapat beberapa lokasi yang ideal dijadikan sebagai tempat berlibur bersama keluarga seperti area perkemahan atau lokasi outbond. Tersedia pula beberapa tempat untuk melangsungkan acara rapat dan seminar. 

Air terjun Umbul Songo (Sembilan mata air) menjadi salah satu objek wisata yang bisa dijumpai. Konon, air terjun dipercaya ditemukan oleh para wali saat jaman Demak yang menjadi sumber air untuk kebutuhan berwudhu. 

Tak ketinggalan terdapat sederetan villa yang umumnya difasilitasi dengan TV, air panas, ruang pertemuan, ruang makan, dapur, dan lahan parkir luas. Bagi mereka yang hobi mendaki, bisa menaklukan gunung Merbabu yang berketinggian 3150m. (jatengpromo.com/*/X-13)




Perjuangan Petani “Negeri di Bawah Kabut”




Kine Klub FISIP Universitas Diponegoro (Undip) punya acara seru nih, kawan. Tepatnya, Selasa 3 April 2012 Kine Klub mengadakan pemutaran dan diskusi film “Negeri di Bawah Kabut” di Ruang Teater FISIP Undip.


Film yang bercerita soal kehidupan petani di lereng Gunung Merbabu ini pertama kali diputar di Dubai International Film Festival 2011.


Sang sutradara, Salahudin Siregar awalnya hanya iseng-iseng dan nggak berpikiran buat menjadikannya sebagai film.


Cowok berkacamata ini pengen menyalurkan hobi fotografi dengan mengabadikan gambar kegiatan para petani di desa tersebut.


Lalu, Salahudin tertarik buat mengikuti kegiatan keluarga Arifin (12 tahun) dan keluarga Muryati (30). Muryati dan suaminya, Sudardi (32) harus bertahan menghadapi perubahan musim yang menggagalkan panen mereka.


Sementara itu, Arifin yang mendapatkan nilai tertinggi UN di sekolahnya terancam nggak bisa melanjutkan SMP. Sama seperti Muryati, orangtua Arifin yang juga petani kesulitan mendapatkan biaya buat sekolah Arifin. Namun, orangtua Arifin tetap berusaha mencari biaya demi menyekolahkan Arifin.


“Negeri di Bawah Kabut”  membuka mata kita, bahwa kehidupan petani tidaklah semudah yang kita kira. Seringkali, biaya perawatan sayuran nggak sebanding dengan harga penjualan saat panen. Mereka berjuang memenuhi kebutuhan hidup dari hasil panen yang kadang gagal. Walaupun demikian, mereka tetap bahagia karena kehangatan dan keakraban keluarga.


Kine Klub pengen mengajak kita, terutama masyarakat Semarang buat lebih menghargai film karya sineas Indonesia. Salah satunya, dengan memutarkan film yang memakan riset selama dua tahun ini. Semarang, menjadi kota pertama pemutaran film keliling ini dan ada 15 kota lagi yang disinggahi sampai akhir Juni 2012.


“Kami berharap mahasiswa lebih aware terhadap film Indonesia. Karena banyak film Indonesia yang berkualitas bagus”, ujar Ketua Pelaksana Pemutaran dan Diskusi Film “Negeri di Bawah Kabut”, Mikha.


Rizki|Foto: Jati





Sabtu, 17 Maret 2012

Dalam rengkuhan jagung manten

Tegel Suharsono (41), warga Gunung Merbabu, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sigap menaiki tangga bambu untuk mencapai "paga" di dapur rumahnya, tempat penyimpanan jagung yang khusus persediaan pangan pokok keluarga, minimal selama setahun.

Di atas luweng dapur rumah itu terdapat "paga" seluas sekitar 10 meter persegi dengan ketinggian dari lantai tanah kira-kira dua meter. Hampir semua barang di "paga" dengan rangka kayu dan alas rajutan bambu itu berwarna hitam karena jelaga.

Luweng dengan dua lubang tepat di bawah onggokan jagung di "paga", tempat isterinya, Seneng (31), setiap hari memasak makanan untuk keluarga tersebut menggunakan kayu bakar. Asap dari bakaran kayu menimbulkan tebaran jelaga yang menempel di semua tempat di dapur itu.

Cahaya matahari siang itu menembus satu lubang seluas setengah meter persegi tembok rumah Tegel, hingga menerpa onggokan jagung yang belum dipipil atau disebut "ontong" dengan total sekitar 240 kilogram. Jagung itu hasil panenan Februari 2012. Sekarung jagung lokal lainnya yang kira-kira juga 240 kilogram tersandar di satu penyangga sudut "paga" adalah sisa musim panen Maret 2011.

"`Niki sing diwastani` (Ini yang namanya, red.) jagung manten," kata Tegel, yang warga Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, di lereng barat Gunung Merbabu itu.

Bapak dari anak semata wayang, pasangan suami-isteri itu, Suryadi (17), menunjukkan tujuh "ontong" jagung yang tergantung dengan tali plastik di atas alas "paga", tempat onggokan jagung lainnya.

Penyimpanan jagung di "paga", agar kering oleh pengaruh panas api dan asap dari luweng di bawahnya. Jika jagung dalam kondisi kering antara lain membuat tidak busuk dan bebas dari penyakit "bubuk". Bahkan, selama hari pertama hingga ketiga penempatan jagung di "paga", api dari luweng harus selalu menyala, sebagai tahap awal pengeringan panenan komoditas berkarbohidrat itu.

Tegel menggantungkan jagung manten tujuh "ontong" berdasarkan perhitungan waktu, saat dirinya panen pertama komoditas itu yang bertepatan dengan Selasa Wage. Dalam perhitungan kalender Jawa, Hari Selasa berangka tiga dan Wage empat, sehingga totalnya berjumlah tujuh.

Panen perdana jagung di arealnya seluas dua "kesok" atau 2.000 meter persegi selain melalui tradisi wiwit, juga melibatkan tokoh dusun yang oleh warga setempat dinamai "juru petung" (juru hitung) dan modin.

Di Dusun Gejayan yang saat ini terdiri atas 136 kepala keluarga atau 519 jiwa terdapat sejumlah "juru petung" yang masing-masing sudah berumur tua antara lain bernama Sunoto, Sucipto, Tumpuk, dan Mulyono, sedangkan modin yang memimpin tradisi wiwit juga beberapa orang di antaranya Wandi, Mulyono, Jumar, Jayadi, dan Tumpuk.

"Panen kemarin saya minta tolong Pak Wandi untuk memimpin wiwit dan membacakan doa-doa. Kalau untuk `juru petungnya` Pak Noto (Sunoto, red.)," katanya dalam bahasa Jawa.

Tidak semua ladangnya ditanami jagung, tetapi sebagian besar aneka sayuran secara tumpang sari, sebagai komoditas utama petani Gunung Merbabu. Ia dan sebagian besar warga setempat menanam jagung untuk persediaan makanan pokok keluarga.

Tradisi wiwit di kawasan itu berupa doa dan penempatan sesaji di areal tanaman jagung yang hendak dipanen. Warga membawa sesaji utama berupa kemenyan, telur, katul, tumpeng, terasi, lombok keriting, pelas (bungkil tempe), sayuran, lauk pauk goreng, jajan pasar, dan "calung" (tempat minum dari bambu).

Setelah sang modin memimpin tradisi itu, kemudian Tegel memilih tujuh "ontong" panenan jagung yang akan berstatus jagung manten. Ketentuan jagung manten dipilih yang pucuknya saling bertemu.

"Gambarannya itu, kalau sepasang pengantin diarak oleh banyak orang saat pesta pernikahan. Untuk jagung ini ada yang khusus disebut jagung manten, dengan harapan panenannya banyak sehingga petani membawa pulang jagung yang banyak itu seperti perarakan pengantin, cukup untuk kebutuhan setahun," kata Kepala Desa Banyusidi yang juga pemimpin Sanggar Warga Budaya Gejayan, Riyadi.

Sebagian kecil petani setempat juga menanam jagung jenis hibrida untuk dijual sebagai pakan ternak dan menu jagung manis atau jagung bakar, sedangkan jagung yang biasa mereka butuhkan untuk makanan pokok disebut jagung jawa.

Ketentuan tradisi masyarakat setempat, setiap pengambilan jagung dari "paga", tidak boleh bertepatan dengan Hari Sabtu dan oleh perempuan yang datang bulan. Dua ketentuan itu dipercaya warga setempat terkait dengan upaya mereka menghindarkan sial keluarga.

Dibandingkan dengan proses pengolahan padi menjadi nasi, cukup rumit dan butuh waktu lebih lama mengolah jagung sejak masih "ontong" menjadi nasi jagung.

Riyadi mengatakan, nasi jagung sejak zaman dahulu hingga saat ini masih menjadi makanan pokok warga Gunung Merbabu di desanya.

Sesekali, mereka juga makan nasi dari beras yang lebih simpel pengolahannya, apalagi saat masa sibuk mengolah pertanian.

"Kalau sekarang karena soal waktu, supaya lebih banyak bisa untuk menggarap ladang dan sayuran, sehingga sekali-kali makan nasi dari beras. Kalau ditanya enak mana jagung dengan beras, kalau saya tetap enak makan nasi jagung," kata Tegel.

Ia pun mengambil dari satu meja makan di rumahnya, "secething" (wadah nasi dari anyaman bambu, red.) nasi jagung masakan istrinya, dua hari lalu.

Pembuatan nasi jagung antara lain melalui tahapan pengupasan jagung "ontong" menjadi pipilan, "kecrok" berupa menumbuk secara manual menggunakan lumpang, perendaman selama tiga hari, pencucian untuk menghilangkan bau tak sedap, "pengecrokan" hingga menghasilkan tepung, pengukusan pertama untuk menghasilkan "karon", pengukusan kedua menjadi "kemeh", dan pengukusan ketiga menjadi nasi jagung siap santap.

Di dusun itu, seorang janda sekitar 55 tahun bernama Mbah Usrek secara khusus menjadi buruh "pengecrok" dengan upah Rp500 per kilogram jagung siap masak.

Ia memiliki masing-masing dua lumpang dan alu untuk melayani permintaan warga. Sebagian warga setempat sering memintanya menumbuk jagung hingga siap dimasak atau menjadi tepung jagung.

"Satu hari, dua sampai tiga tetangga datang minta jagungnya `dikecrok`, hasilnya tidak tentu, tetapi rata-rata tiga hingga lima kilogram per hari," katanya dalam bahasa Jawa.

Mbah Usrek yang tinggal di rumah kayu sederhana dan berlantai tanah tersebut, juga setiap hari makan nasi jagung. Di dapur rumahnya juga terdapat "paga" di atas luweng dengan stok jagung kering sekitar 70 "ontong".

Hampir semua rumah warga setempat memiliki "paga" dengan stok jagung, lumpang, dan alu dengan ukuran bervariasi untuk menumbuk jagung. Lumpang dari batu itu mereka letakkan di luar tempat tinggal masing-masing.

Perempuan dusun setempat, biasanya membutuhkan waktu selama sekitar empat jam untuk mengolah, dari pencucian untuk menghilangkan bau tak sedap jagung "kecrokan" menjadi nasi jagung siap santap.

Sekitar 50 "ontong" jagung menghasilkan kira-kira empat kilogram tepung jagung, untuk dimasak menjadi nasi jagung guna kebutuhan selama enam hari, seperti dialami keluarga Tegel.

Ia pun mengira-ira perbandingan dengan beras yang empat kilogram nasi beras untuk kebutuhan selama empat hari. Selain itu, nasi jagung mampu bertahan dalam kondisi tetap enak dimakan hingga tiga hari, sedangkan nasi beras sehari.

Harga jagung pipilan di tingkat petani setempat saat ini Rp2.500 per kilogram, sedangkan sekitar dua bulan lalu, saat belum panen raya, antara Rp3.000 hingga Rp3.500. Data Dinas Perdagangan dan Pasar Pemerintah Kabupaten Magelang selama 1-5 Maret 2012, harga jagung pipilan kering di sejumlah pasar tradisional skala besar di daerah itu stabil, Rp3.800 per kilogram.

Berdasarkan data Pemkab Magelang 2011 tentang produksi jagung, selama empat tahun terakhir cenderung mengalami penurunan. Pada 2008 produksi sebanyak 82.739 ton dengan luas panenan 15.489 hektare, pada 2009 sebanyak 77.470 ton dengan luas panenan 14.105 hektare, pada 2010 sebanyak 77.837 ton dengan luas panenan 13.739 hektare, dan pada 2011 sebanyak 63.184 ton dengan luas panenan 11.541 hektare.

Sebagian masyarakat di kawasan beberapa gunung yang mengelilingi Magelang seperti Merbabu, Andong, Sumbing, dan Merapi, hingga saat ini makan nasi jagung.

Bahkan, seperti di Dusun Gejayan di kawasan Merbabu, sekitar 90 persen dari total warga setempat masih makan nasi jagung untuk pemenuhan karbohidrat sehari-hari.

Mereka melengkapi sajian nasi jagung menjadi terasa "nyamleng" a
ntara lain dengan lauk ikan asin, sayuran tahu dan tempe bersantan, "kuluban" sawi, dan sambal kosek.

"`Langkung awet wareg e`," kata Tegel dalam bahasa Jawa yang maksudnya lebih lama terasa kenyang makan nasi jagung ketimbang nasi beras. (M029*H018)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Selasa, 13 Maret 2012

Aroma Rekreasi Wisata Pegunungan, Kopeng

Kopeng adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Getasan, Semarang, Jawa Tengah, 14 km arah barat daya dari Kota Salatiga. Terletak di ketinggian 1.450 m dari permukan laut, kawasan Kopeng dikelilingi oleh Gunung Telomoyo, Gunung Andong dan Gunung Merbabu.

Desa yang terkenal dengan suasana dan panorama alam pegunungan yang menarik ini menjual berbagai hasil pertanian masyarakat sekitar seperti sayur, buah, dan tanaman hias. Selain itu, terdapat berbagai fasilitas rekreasi, seperti bungalow, kolam renang, penginapan dan restoran yang dikelilingi taman bunga, kolam pemancingan serta bumi perkemahan.

Untuk menuju lokasi ini, kamu bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat ke arah Kopeng, lho. Kondisi jalannya sudah beraspal mulus. Namun, berhati-hatilah saat berkendara, karena lebar jalan hanya cukup buat dua mobil saja.

Di lokasi wisata Kopeng, juga terdapat air terjun Umbul Songo, yang berarti sembilan mata air. Nah, jika kalian masuk ke lokasi Umbul Songo ini, akan tercium semerbak udara pegunungan yang bersih dan harum bunga-bunga liar yang tumbuh di sekitar lokasi wisata. Hmm.. segar.

Di sekitar kawasan wisata, juga terdapat banyak villa yang dilengkapi fasilitas TV dan air panas, ruang pertemuan, ruang makan. Buat kamu yang pengen memasak sendiri, tempat ini cocok buat kalian, karena villa-villa disini juga telah dilengkapi dapur. Nah, serasa di rumah sendiri, bukan.

Bagi kamu yang suka dengan rekreasi beraroma wisata pegunungan, Wisata Kopeng adalah tempat yang tepat buat kamu. Melihat Gunung Merbabu diterawangi oleh sinar matahari sore hari, tentu akan menjadi momen yang nggak terlupakan bukan.

Kopeng Treetop

Nah, nggak cuma wisata alam yang ada di wisata Kopeng, lho. Disini kita juga bisa rekreasi adrenalin di Kopeng Treetop. Petualangan dari pohon ke pohon dengan melewati berbagai tantangan yang berbeda, akan menjadi hal seru yang nggak terlupakan.

Kopeng Treetop merupakan bagian dari Treetop Adventure Park yang tersebar di seluruh dunia dan sekarang lebih dari 350 jaringan Adventure Park. Bermula dari tahun 1995, Treetop Adventure Park pertama kali dibuat di French Alps, Perancis dan di tahun 2005 sebanyak 300-an taman telah menyebar di Inggris, Spanyol, Italia, Swiss dan Kanada.

Baru pada tahun 2010, Kopeng berkesempatan menjadi bagian dari Jaringan Adventure Park dengan dibukanyaKopeng Treetop Adventure Park di Getasan, Kopeng, Salatiga. Disini, berbagai permainan menantang, sepertiflying fox, spider jump, jembatan tali dan balok variasi, lorong gantung anak, trampollin jaring, dan repling pohon menjadi sensasi nyali tersendiri.

Setiap sirkuit telah dirancang sedemikian rupa, dengan tingkat kesulitan yang bertahap untuk dewasa dan anak-anak (mulai umur 4 tahun), dengan variasi dari 2- 20 meter di atas pohon. Di sepanjang challenges di seluruh sirkuit Kopeng Treetop, setiap peserta akan terkait dengan “life-line support” sehingga kenyamanannya akan terjamin.

Jangan khawatir saat bermain, karena peralatan yang digunakan berstandar Eropa dan petugas terlatih yang siap mengawal dan membantu anda di bawah pengawasan Technical Advisor dari Perancis. Wow!

Bila sudah merasa lapar, kamu bisa mampir ke kantin atau jajan di warung makan di sekitar wisata Kopeng. Semangkok bakso dan teh hangat, mungkin bisa menjadi menu yang menarik di sela-sela dinginnya udara.

Selamat berlibur ya!

sumber : suara merdeka

Senin, 20 Februari 2012

JEJAK KIJANG DI PERTANIAN






Menebar Gembira di Atas Jembatan Desa

Oleh M. Hari Atmoko

Modin Bejo (52) berjalan menuju tengah jembatan, dia membawa sekeranjang bunga mawar dan tempayan warna hitam berisi pisang raja, kembang melati, kantil, serta kemenyan yang terbungkus daun pisang.

Lelaki yang mengenakan sendal jepit warna hitam, berpakaian motif batik, dan berpeci itu lalu bersila di atas jalan bertata batu di jembatan Sungai Gondang.

Jembatan itu penghubung Dusun Puluhan, Desa Banyusidi dengan Compok, Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, di antara dua tebing setinggi sekitar 15 meter.

Ibu jari dan telunjuk tangan kanannya mengapit sebongkah kecil kemenyan. Didekatkan kemenyan itu beberapa centimeter di depan mulutnya, lalu ia mulai melafalkan doa yang intinya ungkapan syukur warga atas selesai pembangunan jembatan antardusun di kawasan barat Gunung Merbabu tersebut.

Sejumlah burung berterbangan bebas sambil berkicau, mencari tempat hinggap di antara pepohonan pinus di kawasan itu.

Para penari tradisional topeng ireng grup Putra Baruna Dusun Puluhan berdiri berderet di jalan desa di bawah tebing tak jauh dari jembatan itu bersama anak-anak madrasah setempat yang memainkan drum band. Mereka bersama warga setempat turut masuk dalam suasana ritual syukur yang dilakukan sang modin di atas jembatan tersebut.

Ujung barat jembatan terpampang gapura kontemporer terbuat dari tatanan batang pohon "galar" beratap ijuk dengan hiasan sabut kelapa, daun pakis, rumbai-rumbai dari rangkaian buah aren, dan hiasan melengkung dari janur.

Persis di tengah bagian atap gapura kontemporer itu berupa instalasi dari ijuk membentuk semacam burung garuda. Di tengah gapura tergantung papan kecil bertuliskan "Selamat Datang", seolah tanda penyambutan siapa saja yang hendak masuk ke dusun itu melewati Jembatan Kali Gondang.

Tak beberapa lama kemudian, Bejo dengan disaksikan antara lain masyarakat setempat, Camat Pakis Wisnu Harjanto, Kepala Taman Nasional Gunung Merbabu Wilayah II Magelang Sihono, Kepala Desa Bayusidi Riyadi, dan Kepala Dusun Puluhan Suyitno, berdiri dan berjalan mengelilingi jembatan sambil menaburkan kembang mawar warna merah dan putih.

Camat Wisnu dengan pakaian seragam birokrat pemda setempat pun kemudian berdiri di tengah jembatan sepanjang 12 meter dan lebar empat meter itu.

Ia memegang sepasang burung merpati. Saat musik pengiring tarian topeng ireng dan satu nomor musik drum band dikumandangkan, sepasang burung itu pun dilepas dan terbang melewati pepohonan di antara dua tebing itu.

Jembatan lama yang dibangun secara swadaya masyarakat setempat era 1980-an hancur diterjang banjir sungai itu pada Desember 2010. Jembatan itu jalur utama yang memudahkan warga setempat, yang hendak menjual panenan hortikultura antara lain ke Pasar Pakis, Pasar Kaponan, dan Pasar Ngablak.

Selain itu, jembatan tersebut juga sarana paling dekat bagi anak-anak desa setempat untuk menjangkau sekolahnya di SMP dan SMA di kota Kecamatan Pakis.

Warga setempat berjumlah 231 jiwa atau 63 keluarga dengan hampir semuanya bermatapencaharian sebagai petani hortikultura terutama cabai, tomat, dan kubis.

Jembatan itu juga menjadi jalur penting untuk aktivitas perekonomian, akses pendidikan, dan kesehatan warga di beberapa desa lainnya di kawasan itu. "Itu jalur penting kami selama ini untuk menjangkau ibu kota kecamatan kami," kata Suyitno.

Warga harus menempuh jalan yang lebih jauh untuk keluar desanya atau menjangkau kota kecamatan guna berbagai kepentingan, akibat putusnya jembatan tersebut.

Pembangunan jembatan baru di atas sungai itu untuk menggantikan jembatan yang telah hancur dilakukan secara swakelola sejak Juli 2011 hingga awal Januari 2012.

Total biaya pembangunan jembatan baru mereka sekitar Rp94,714 juta. Sekitar Rp89 juta di antara total dana itu berasal dari alokasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Pedesaan 2011. Dana itu juga untuk pembangunan saluran air di sekitar jalan menuju jembatan. "Sempat terhambat pembangunannya satu bulan karena proses pencairan dana," katanya.

Camat Wisnu menyampaikan apresiasi atas selesainya pembangunan jembatan penghubung antardesa di kawasan gunung itu secara swakelola oleh masyarakat setempat.

"Ini syukuran masyarakat. Mereka juga harus merawat, menjaga, dan melestarikan lingkungan sekitar ini agar tetap lestari," katanya.

Ungkapan gembira atas selesainya pembangunan jembatan di desa mereka pun bagaikan makin diperkuat menjadi pesta masyarakat Gunung Merbabu.

Pusat dusun itu menjadi tempat keramaian masyarakat karena sejumlah pementasan kesenian tradisional seperti tarian "Ndayakan", "Geculan Bocah, dan "Gupolo Gunung". Belum lagi, puluhan orang di tepi kanan dan kiri jalan desa itu serta di teras-teras rumah warga setempat menggelar berbagai dagangan seperti jajanan, mainan anak-anak, pakaian, dan aneka menu makanan lainnya.

Tabuhan iringan musik tradisional seperti gamelan, "truntung" dan "jedor" menggema sepanjang siang hari di kawasan gunung itu. Deretan meja tamu di setiap rumah mereka bertata aneka makanan yang tersuguh baik dalam piring maupun "topeles" untuk siapa saja yang singgah.

Untuk jembatan baru di desanya, mereka tulus dan total mengungkap kegembiraannya.


sumber : Kompas